Konsep Literasi dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
![]() |
| KONSEP LITERASI SEKOLAH |
Baca juga :
> Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Lengkap Untuk Semua Jenjang.
Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan komponen literasi informasi sebagai berikut:
[ads-post]
[ads-post]
- Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasar pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
- Literasi Perpustakaan (Library Literacy), yaitu kemampuan lanjutan untuk bisa mengoptimalkan Literasi Perpustakaan yang ada. Maksudnya, pemahaman perihal keberadaan perpustakaan sebagai salah satu susukan mendapat informasi. Pada dasarnya literasi perpustakaan, antara lain, menawarkan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi tumpuan dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai penjabaran pengetahuan yang memudahkan dalam memakai perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga mempunyai pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menuntaskan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.
- Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui banyak sekali bentuk media yang berbeda, ibarat media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya. Secara gamblang ketika ini bisa dilihat di masyarakat kita bahwa media lebih sebagai hiburan semata. Kita belum terlalu jauh memanfaatkan media sebagai alat untuk pemenuhan informasi perihal pengetahuan dan menawarkan persepsi faktual dalam menambah pengetahuan.
- Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi ibarat peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta watak dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, sanggup memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman memakai komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya meliputi menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta menjalankan agenda perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi alasannya yaitu perkembangan teknologi ketika ini, diharapkan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.
- Literasi Visual (Visual Literacy), yaitu pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang menyebarkan kemampuan dan kebutuhan berguru dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang setiap hari membanjiri kita, baik dalam bentuk tercetak, di televisi maupun internet, haruslah terkelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring menurut watak dan kepatutan.
Sahabat Dunia Pendidikan, Literasi yang komprehensif dan saling terkait ini memampukan seseorang untuk berkontribusi kepada masyarakatnya sesuai dengan kompetensi dan kiprahnya sebagai warga negara global (global citizen).
Dalam konteks Indonesia, kelima keterampilan tersebut perlu diawali dengan literasi usia dini yang meliputi fonetik, alfabet, kosakata, sadar dan memaknai materi cetak (print awareness), dan kemampuan menggambarkan dan menceritakan kembali (narrative skills).
Pemahaman literasi dini sangat penting dipahami oleh masyarakat alasannya yaitu menjamurnya forum bimbingan berguru baca-tulis-hitung bagi batita dan balita dengan cara yang kurang sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. Oleh alasannya yaitu itu, perlu diberi perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan literasi usia dini berlanjut ke literasi dasar.
Dalam pendidikan formal, tugas aktif para pemangku kepentingan, yaitu kepala sekolah, guru, tenaga pendidik, dan pustakawan sangat besar lengan berkuasa untuk memfasilitasi pengembangan komponen literasi penerima didik. Selain itu, diharapkan juga pendekatan cara belajar-mengajar yang keberpihakannya terang tertuju kepada komponen-komponen literasi ini.
Kesempatan penerima didik terpajan dengan kelima komponen literasi akan memilih kesiapan penerima didik berinteraksi dengan literasi visual. Sebagai langkah awal, sanggup disimpulkan bahwa diharapkan perubahan paradigma semua pemangku kepentingan untuk terciptanya lingkungan literasi ini.
Demikian Sahabat Dunia Pendidikan yang sanggup disampaikan mengenai Konsep Literasi Sekolah, supaya bermanfaat bagi kita semua. aamiin

0 Response to "Gerakan Literasi Sekolah : Konsep Literasi Sekolah"
Post a Comment