Prinsip-prinsip dalam Menerapkan Pembelajaran Joyfull Learning (PAKEM)
Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, Ciri-ciri atau karakteristik PAKEM adalah: Pembelajarannya mengaktifkan akseptor didik, mendorong kreativitas akseptor didik dan guru, pembelajarannya efektif, pembelajarannya menyenangkan utamanya bagi akseptor didik. Dan prinsip PAKEM antara lain:
- Mengalami: akseptor didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional
- Komunikasi: kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan akseptor diidik
- Interaksi: kegiatan pembelajarannyaa memungkinkan terjadinya interaksi multi arah
- Refleksi: kegiatan pembelajarannya memungkinkan akseptor didik memikirkan kembali apa yang telah dilakukan (Ismail, 2008: 46-47).
Menurut (Hadi Mustofa, 1998) lima metode kunci untuk merancang seting kelas yang konstruktif , yaitu:
- Melindungi pembelajar dari kerusakan praktik instruksional dengan menyebarkan otonomi dan kontrol pemelajar, mendorong pengaturan diri dan membuat arahan secara pribadi yang relevan dengan pemelajar.
- Menciptakan konteks berguru yang mendorong pengembangan otonomi pribadi.
- Mengkondisikan pemelajar dengan alasan-alasan berguru dalam acara belajar.
- Mendorong pengaturan diri dengan pengembangan keterampilan dan tingkah laris yang memungkinkan pemelajar meningkatkan tanggung jawab dalam belajarnya.
- Mendorong kesadaran berguru dan pengujian kesalahan
Indikator PAKEM
Dalam penerapan PAKEM oleh pendidik atau guru bias dilihat dan dicermati banyak sekali indikasi yang muncul pada dikala proses berguru mengajar dilaksanakan. Di samping itu, pendidik juga perlu memperhatikan banyak sekali prinsip ketika menerapkannya.
Kriteria ada atau tidaknya pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan di antaranya sanggup dilihat pada beberapa indikator berikut ;
INDIKATOR PROSES | PENJELASAN | METODE |
| 1. Pekerjaan Peserta Didik (Diungkapkan dengan bahasa/ kata-kata akseptor didik sendiri). | PAKEM sangat mengutamakan semoga akseptor didik bisa berfikir, berkata-kata, dan mengungkap sendiri. | Guru membimbing akseptor didik dan memajang hasil karya nya semoga sanggup saling belajar |
2. Kegiatan Peserta Didik (peserta didik banyak diberi kesempatan untuk mengalami atau melaksanakan sendiri). | Bila akseptor didik mengalami atau mengerjakan sendiri, mereka berguru meneliti perihal apa saja. | Guru dan akseptor didik interaktif dan hasil pekerjaan akseptor didik dipajang untuk meningkatkan motivasi. |
3. Ruang Kelas (Penuh pajangan hasil karya akseptor didik dan alat peraga sederhana buatan guru dan akseptor didik). | Banyak yang sanggup dipajang di kelas dan dari pajangan hasil itu akseptor didik saling belajar. Alat peraga yang sering dipakai diletakkan strategis. | Pengamatan ruangan kelas dan dilihat apa saja yang diharapkan untuk dipajang, dimana, dan bagaimana memajangnya |
4. Penataan Meja Kursi (Meja bangku daerah berguru akseptor didik sanggup diatur secara fleksibel). | Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan banyak sekali cara/metode/tehnik, contohnya melalui verja kelompok, diskusi, atau acara akseptor didik secara individual. | Diskusi kerja kelompok, kerja mandiri, pendekatan individual guru kepada murid yang prestasinya kurang baik, dsb. |
5. Suasana Bebas (Peserta didik mempunyai proteksi suasana bebas untukmenyampaikan atau mengungkapkan pendapat). | Peserta didik dilatih untuk mengungkapkan pendapat secara bebas, baik dalam diskusi, tulisan, maupun kegiatan lain. | Guru dan sesama akseptor didik mendengarkan dan menghargai pendapat akseptor didik lain, diskusi, dan kerja individu. |
6. Umpan Balik Guru (Guru memberi kiprah yang bervariasi dan secara pribadi memberi umpan balik semoga akseptor didik secara memperbaiki kesalahan). | Guru memperlihatkan kiprah yang mendorong akseptor didik bereksplorasi; dan guru memperlihatkan bimbingan individual atau pun kelompok dalam hal penyelesaian masalah. | Penugasan individual atau kelompok; bimbingan langsung; dan penyelesaian masalah. |
7. Sudut Baca (Sudut kelas sangat baik jikalau diciptakan sebagai sudut baca untuk akseptor didik) | Sudut baca diruang kelas akan mendorong akseptor didik gemar membaca. (Peserta didik didekatkan dengan buku-buku, jurnal, koran, dll) | Observasi kelas diskusi, dan pendekatan terhadap orangtua. |
8. Lingkungan Sekitar (Lingkungan sekitar sekolah dijadikan media pembelajaran). | Sawah, lapangan, pon, sungai, kantor pos, puskesmas, stasiun dan lain-lain dioptimalkan pemanfataannya untuk pembelajaran. | Observasi lapangan eksplorasi, diskusi kelompok, kiprah individual, dan lain-lain. |
Hakikat Bahasa Jerman Sebagai Pembelajaran Bahasa Asing
Stern (1983: 21) beropini bahwa “Language teaching is defined as activities intended to bring about language learning, a theoryof language, teaching always implies concepts of language learning”.Makna dari kutipan tersebut ialah pembelajaran bahasa turut mengikutsertakan konsep pengajaran bahasa dan teori kebahasaan untuk sanggup melaksanakan aktivitas-aktivitas yang bertujuan untuk mempelajari bahasa tersebut. Hal ini berarti bahwa berguru membutuhkan aktivitas-aktivitas yang sanggup menunjang kemampuan berguru bahasa itu sendiri.
Sembel (2003: 14) mengemukakan bahwa pembelajaran bahasa sanggup berjalan dengan baik perlu dilakukan dengan urutan yang benar,urutan tersebut adalah: Dimulai dengan mendengarkan bagaimana bahasa tersebut diucapkan. Setelah akseptor didik bisa memahami input lisan, akseptor didik perlu mencobanya sendiri untuk mengucapkannya.Selanjutnya, akseptor didik boleh membaca atau melihat bagaimana input tersebut dituliskan. Terakhir akseptor didik bisa mulai mempraktikkan bagaimana menuliskan input tersebut, selain empat keterampilan tersebut, terdapat aspek pendukung untuk menguasai empat keterampilan tersebut yaitu aspek tata bahasa atau gramatika bahasa Jerman.
Erdmenger (2000: 17) berpendapat bahwa dalam proses pembelajaran guru bahasa harus memperhatikan beberapa hal yang sanggup mempengaruhi keberhasilan akseptor didik dalam mempelajari suatu bahasa, yaitu:
- Bagaimana guru dapat membuat peserta didik tetap tertarik mempelajari bahasa yang dipelajari,
- Bagaimana guru membuat bahan kebahasaan yang dipelajari lebih mudah diingat dan
- Bagaimana guru menganjurkan peserta didik untuk menggunakan bahasa yang mereka pelajari.
Pengertian Metode Everyone Is a Teacher Here
Istilah Everyone Is a Teacher Here berasal dari bahasa Inggrisyang berarti setiap orang ialah guru (Fachrurrozi dan Mahyuddin, 2010:206). Makara metode Everyone Is a Teacher Here ialah suatu metode yangmemberi kesempatan kepada setiap akseptor didik untuk bertindak sebagai“pengajar” terhadap akseptor didik yang lain.
Dalam proses berguru mengajar informasi atau pengetahuan tidak harus berasal dari guru,peserta didik bisa saling mengajar dengan akseptor didik yang lainnya.
- Menurut Silberman (2009: 171) metode ini merupakan cara sempurna untuk mendapat partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu.
- Metode ini memperlihatkan kesempatan kepada setiap akseptor didik untuk bertindak sebagai seorang “pengajar” terhadap akseptor didik yang lain.
- Metode Everyone Is a Teacher Here merupakan implementasi dari taktik pembelajaran kontrukstivistik yang menempatkan akseptor didik sebagai subyek dalam pembelajaran.
- Metode ini sanggup dilakukan bersamaan dengan metode ceramah. Metode ceramah sebagai dasar semoga akseptor didik mendapat pengetahuan dasar (prior knowledge).
- Dengan demikian akseptor didik akan menjadi aktif dalam proses berguru mengajar dan mampumerekonstruksi pengetahuan yang dimilikinya, sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator (Zaini, 2008: 60).
Hal ini sesuai dengan pendapat Silberman (2006: 2) yang menyatakan bahwa: When I only hear, I forget When I hear and see, I remember a little When I hear, see, and ask question and discuss with someone else, I begin to understand.When I hear, see, question, discuss, and do, I aquire knowledge and skill When I teach someone, I master what I have learned. Lecture 5 percent, Reading 10 percent, Audiovisuals 20 percent, Demonstration 30 percent, Discussion 50 percent, Practice by doing 75 percent, Teaching others 90 percent”.
Pelaksanaan Metode Everyone Is a Teacher Here Menurut Ismail (2008: 74) langkah-langkah metode Everyone Is a Teacher Here ialah sebagai berikut.
- Bagikan kertas kepada setiap akseptor didik dan mintalah mereka untuk menuliskan sebuah pertanyaan perihal bahan pokok yang telah atau sedang dipelajari, atau topik khusus yang ingin mereka diskusikan dalam kelas.
- Kumpulkan kertas-kertas tersebut, dikocok, dan dibagikan kembali secara acak kepada masing-masing akseptor didik dan diusahakan pertanyaan tidak kembali kepada yang bersangkutan.
- Mintalah mereka membaca dan memahami pertanyaan di kertas masing-masing, sambil memikirkan jawabannya.
- Undang sukarelawan (volunter) untuk membacakan pertanyaan yang ada di tangannya (untuk membuat budaya bertanya, upayakan memotivasi akseptor didik untuk angkat tangan bagi yang siap membaca, tanpa pribadi menunjuknya)
- Mintalah ia memperlihatkan respons (jawaban/penjelasan) atas pertanyaan atau permasalahan tersebut, kemudian mintalah kepada teman sekelasnya untuk memberi pendapat atau melengkapi jawabannya.
- Berikan apresiasi (pujian/tidak menyepelekan) terhadap setiap jawaban/tanggapan akseptor didik semoga termotivasi dan tidak takut salah.
- Kembangkan diskusi secara lebih lanjut dengan cara akseptor didik bergantian membacakan pertanyaan di tangan masing-masing sesuai waktu yang tersedia.
- Guru melaksanakan kesimpulan, klarifikasi, dan tindak lanjut.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Everyone Is a Teacher Here
Djamarah dan Zaini (1997: 107) menyatakan bahwa metode Everyone Is a Teacher Here mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Berikut ini ialah kelebihan dari metode Everyone Is aTeacher Here.
- Pertanyaan sanggup menarik dan memusatkan perhatian akseptor didik, sekalipun ketika itu akseptor didik sedang ribut, yang mengantuk kembali segar dan hilang kantuknya.
- Merangsang akseptor didik untuk melatih dan menyebarkan dayapikir, termasuk daya ingatan.
- Mengembangkan keberanian dan keterampilan akseptor didik dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.
Metode Everyone Is a Teacher Here juga mempunyai beberapa kekurangan antara lain sebagai berikut.
- Memerlukan banyak waktu.
- Peserta didik merasa takut apabila guru kurang sanggup mendorong akseptor didik untuk berani, dengan membuat suasana yang tidak tegang.
- Tidak gampang membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikirdan gampang dipahami akseptor didik.
Demikian Sahabat Dunia Pendidikan yang sanggup disampaikan mengenai Prinsip-prinsip dalam Menerapkan Pembelajaran Joyfull Learning, semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

0 Response to "Prinsip-Prinsip Dalam Menerapkan Pembelajaran Joyfull Learning (Pakem)"
Post a Comment